Selasa, 07 April 2015

Harga baja ringan - "Mengubah Tangga Agar Ramping dan Lapang" - Baja ringan tangerang

Renovasi

Mengubah Tangga Agar Ramping dan Lapang

Mengubah material tangga dan mengolah ruangan dengan filosofi dari negara sakura, adalah trik pemilik rumah ini dalam mengatasi ukuran ruangan yang terbatas.

Teks Maria Jaclyn

Luas lahan: 116m2, Luas bangunan: 146m2

Tak hanya membutuhkan hunian yang letaknya strategis, seseorang juga membutuhkan interior rumah yang nyaman dan mampu menunjang aktivitas penghuni sepanjang hari. Inilah yang belum didapatkan pasangan Mulyadi Oey dan Erlin Budiman saat pertama kali membeli rumah ini beberapa tahun yang lalu.

Alhasil, bersama arsitek P. Marvin Dalimartha, Mulyadi pun memulai renovasi dan pengerjaan interior rumahnya pada bulan November 2012. Lamanya pengerjaan renovasi yang memakan waktu hampir setahun ini memiliki alasan tersendiri, yang menjadikan rumah ini lebih unik dan personal bagi sang pemilik.

Mengubah tangga demi cahaya

Renovasi interior pada rumah ini lebih berfokus pada perubahan desain tangga yang semula bermaterial beton. Seperti tangga beton pada umumnya, bentuknya terlihat masif, kaku dan berat, pada ruangan yang terbilang berukuran terbatas ini.

Alhasil, tangga beton ini menyebabkan 2 kerugian besar yang dirasakan di dalam ruangan. Pertama, bentuknya yang besar dan padat menutupi jendela di belakangnya, sehingga cahaya sulit memasuki ruangan. Kedua, posisi tangga sebagai focal point saat seseorang memasuki rumah dari pintu utama, mengurangi estetika ruangan itu sendiri karena kesan yang berat.

Untuk mengatasi masalah ini, Marvin merancang tangga modern yang terdiri dari rangka besi dan pijakan kayu. Untuk semakin menambah kesan ringan, railing menggunakan material kombinasi dari rangka besi, kayu dan tali baja.

"Dengan bentuk tangga melayang, sinar matahari dari jendela bisa masuk ke dalam ruangan sehingga fungsi jendela lebih efektif," tutur Marvin.

Menganut paham Jepang

"Saya mengambil filosofi wabi-sabi sebagai konsep interior," Mulyadi menjelaskan saat ditanya tentang konsep yang akrab dengan pekerjaannya sebagai UX Designer ini.

Karakter estetika wabi-sabi memiliki ciri khas bentuk yang natural, tidak terikat aturan, simpel, ekonomis, rendah hati, intim dan tenang. Hal ini tercermin dari bentuk furnitur yang simpel namun fungsional dan palet warna yang natural dan tidak saling "berteriak".

Karakter ini dapat dilihat dari setiap sisi ruangan, dari ruang makan yang menyatu dengan ruang ruang keluarga, teras belakang, hingga ruang tidur utama. Hadirnya kesan yang apa adanya namun anggun ini membuat kita merasakan kecintaan sang pemilik rumah dengan unsur kayu yang natural.

"Dari dulu saya selalu ingin punya rumah yang banyak menggunakan kayu. Di rumah pertama inilah cita-cita itu diwujudkan," sambung Mulyadi.

Terjun langsung sampai hal terkecil

Hadirnya karakter penghuni di setiap sudut ruangan, terjadi karena sang penghuni memiliki keingintahuan yang besar untuk selalu terjun langsung ke dalam renovasi rumahnya. Tak heran, meski terasa personal, renovasi ini berlangsung cukup lama, yaitu sekitar setahun lamanya.

"Meski masih awam, saya selalu mau terjun dan belajar langsung. Ini yang membuat renovasi lama, selain banyak yang saya minta betulkan karena kurang rapi," tutur Mulyadi.

Dari mulai pemilihan jenis kayu yang akan digunakan untuk furnitur, hingga hunting lampu, Mulyadi selalu menyempatkan diri untuk ikut serta. Ia banyak belajar mengenal berbagai jenis kayu, menyambangi berbagai daerah di Indonesia, dan mencoba untuk bereksperimen di dalam ruangan.

Alhasil, kita dapat menemukan beberapa jenis kayu di dalam ruangan, mulai dari yang solid dan eksklusif seperti kayu ulin untuk lantai teras belakang, kayu jati untuk meja makan dan tempat tidur, dan kayu mahoni untuk tangga, hingga yang lebih ekonomis seperti tripleks meranti finishing veneer sungkai pada dapur dan lemari pakaian.

Usaha ini pun tak sia-sia. Selain bisa mengontrol pengeluaran, Mulyadi juga menambah pengalaman dan pengetahuannya tentang membangun rumah, serta dapat menuangkan selera pribadinya ke hunian pertamanya ini. Usaha ini pun memberikan hasil yang memuaskan dan tak sia-sia.

Dari tangga beton jadi tangga besi

Renovasi tangga seperti ini mengalami tahap pekerjaan yang tak terbilang rumit. Tahap pertama adalah pekerjaan menghancurkan tangga beton yang sudah ada. Meski tak terlalu teknis, pekerjaan ini dapat "mengorbankan" keramik di bawah tangga yang akan rawan rusak. Dalam kasus ini, Mulyadi beruntung karena area tangga belum dipasang keramik saat renovasi berlangsung.

Tahap kedua adalah merancang desain tangga yang baru. Konstruksi besi membutuhkan material yang lebih ramping dan kecil daripada beton, namun pastinya akan lebih rawan bahaya. Oleh karena itu, Mulyadi menyewa jasa teknik sipil untuk menghitung kekuatan tangga secara cermat. Pekerjaan yang sangat teliti dan terkonsep ini memang menghabiskan waktu cukup lama, yaitu sekitar 10 bulan, namun memberikan hasil yang memuaskan.

Curi idenya!

a. Pelat besi yang menyanggah pijakan kayu, bertumpu pada struktur besi WF 150 berprofil I.

b. Pijakan dari bahan kayu mahoni dapat langsung dari kota Semarang.

c. Tali baja 4mm disambung ke struktur besi hollow berukuran 4x2.

Ini materialnya:

1. Meja makan: kayu jati, merek ethnicraft.

2. Sofa: fabric, merek kekayuan.

3. Lampu: barang antik, jl. Surabaya.

4. Meja kerja: kayu mahoni, merek pika.

5. Kursi kerja: herman milles.

6. Lemari pakaian: tripleks meranti finishing veneer sungkai 3mm, merek axis.

Simpel, dengan salah satu sisi dinding berwarna hijau sebagai focal point pada ruangan, membuat area ini terlihat lebih lapang dan fungsional.

Ruang kerja di lantai 2 terdiri dari meja dan kabinet melayang sepanjang 3m yang ramping dan simpel namun tetap fungsional.

Kesan dingin dari table top berbahan besi stainless dipadukan dengan material kabinet dapur berfinishing veneer sungkai yang memberikan kesan hangat.

Lokasi kediaman keluarga Mulyadi Oey, Erlin Budiman, Kemanggisan, Jakarta Barat.

Curi idenya:

Pengaman untuk si kecil

Memiliki sepasang buah hati yang masih berusia balita, yaitu Abhika Hugo Oey dan Amitha Hana Oey, membuat pemilik rumah harus ekstra hati-hati agar si kecil lebih aman bermain di lantai 2 rumahnya. Alhasil, Mulyadi pun memasang pintu pengaman di sisi teratas tangga rumahnya agar si kecil selalu terlindungi.

Filosofi wabi-sabi

Filosofi yang terlahir di Jepang ini merepresentasikan keindahan dalam bentuk yang tidak sempurna, tidak permanen, dan tidak selesai, untuk menghasilkan karakter natural yang menyatu dengan alam. Selama berabad-abad, orang Jepang telah menggunakan filosofi ini dalam berbagai bidang keilmuan, dari teknik hingga seni. Hampir semua kesenian tradisional Jepang, seperti seni keramik, seni merangkai bunga, dan seni minum teh, menerapkan filosofi ini. Dalam bidang arsitektur, arsitek Tadao Ando adalah salah satu orang yang menggunakan filosofi ini dalam seni perancangan bangunan.

===

harga baja ringan ... toko baja ringan ... harga baja ringan ... baja ringan tangerang ... harga baja ringan ... atap baja ringan tangerang ... harga baja ringan ... baja ringan di jakarta ...

===

Sumber:
Tabloid Rumah, Inspirasi hidup nyaman, Edisi 301-XII, 03-16 Oktober 2014.

===

Perpustakaan Islam online
http://baitulkahfitangerang.blogspot.com

===
Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Perpustakaan Islam Online
Kitab Para Ulama Ahlus Sunnah wal Jama'ah
http://baitulkahfitangerang.blogspot.com

Total Tayangan Halaman