Sabtu, 21 Februari 2015

Menyaksikan upacara mora (3)

Arsitektur

ArchitecTour:
Menyaksikan upacara mora (3)

Terjaga hingga malam

Rangkaian upacara adat mora mulai dilaksanakan setelah kami tiba. Dimulai dengan pemotongan manuk (ayam) hitam dan babi hitam, yang merupakan simbol dari hal-hal buruk. Dengan memotongnya, masyarakat Wae Rebo percaya, segala keburukan akan hilang dan mereka akan dijauhkan dari segala bencana.

Meskipun hanya tamu, kami dipersilakan mengikuti seluruh rangkaian upacara mora, layaknya para kerabat. Tentu saja kesempatan ini tak kami sia-siakan. Kami mengikuti setiap tahap upacara di Mbaru Gendang, hingga ke puncaknya.

Karena ini merupakan upacara besar yang sudah lama dinantikan, banyak kerabat yang berdatangan, kembali ke desa Wae Rebo. Mereka ini adalah penduduk Wae Rebo yang tinggal di desa Kombo, desa "kembaran" Wae Rebo. Ya, karena jumlah Mbaru Niang di sini hanya ada 7, ada sebagian warganya yang merantau dan menetap di luar desa. Namun, ketika acara adat berlangsung, semua pasti "pulang kampung" ke desa adat ini.

Salah satunya adalah Lukas, yang kini mengajar di sekolah dasar di Denge. Ia datang menggunakan baju khas Manggarai: kemeja, sarung tenun, dan penutup kepala. Lelaki bersuara lantang yang gemar bercanda ini mengaku bahwa ia sangat bangga karena generasinya bisa memiliki rezeki yang cukup sehingga dapat mengadakan upacara mora.

Bersambung...

===

Catatan: bagi kaum muslimin dilarang mengikuti keyakinan dan adat yang bertentangan dengan ajaran tauhid dalam Islam.

===

Sumber:
Tabloid Rumah, Inspirasi hidup nyaman, Edisi 301-XII, 03-16 Oktober 2014.

===

Perpustakaan Islam online
http://baitulkahfitangerang.blogspot.com

===
Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Perpustakaan Islam Online
Kitab Para Ulama Ahlus Sunnah wal Jama'ah
http://baitulkahfitangerang.blogspot.com

Total Tayangan Halaman